• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Parlemen
  • Politik
  • Hukum
  • Daerah
    • Pekanbaru
    • Kampar
    • Pelalawan
    • Siak
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Rohul
    • Rohil
    • Inhu
    • Inhil
    • Kuansing
    • Meranti
  • Pemerintahan
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • More
    • Religi
    • Video
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Parlemen
  • Politik
  • Hukum
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Religi
  • Video
  • Meranti
  • Kuansing
  • Inhil
  • Inhu
  • Rohil
  • Rohul
  • Dumai
  • Bengkalis
  • Siak
  • Pelalawan
  • Kampar
  • Pekanbaru
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN +INDEKS
Meledak, Peserta Riau Edutech Campus Summit 2025 Penuhi Gelanggang Remaja
Dibaca : 27853 Kali
Sah, KPU Riau Tetapkan Paslon Abdul Wahid - SF. Hariyanto Sebagai Gubernur Terpilih Pilkada 2024
Dibaca : 27229 Kali
Panwascam Pangakalan Kerinci Tertibkan Ratusan APK
Dibaca : 37399 Kali
Targetkan Satu Kursi Satu Dapil, Partai Ummat Serahkan Berkas Bacaleg ke KPU Pekanbaru
Dibaca : 40859 Kali
Suami Selingkuh, Istri ASN Diskop Pekanbaru Ini Lapor ke BKPSDM
Dibaca : 43375 Kali

  • Home
  • Nasional

Menahan Diri di Era yang Serba Meledak Oleh : Iswadi M.Yazid

Redaksi

Jumat, 15 Mei 2026 12:26:15 WIB
Cetak
Menahan Diri di Era yang Serba Meledak  Oleh : Iswadi M.Yazid

PelalawanPos- Di penghujung Dzulqaidah, manusia modern sesungguhnya sedang menghadapi kelelahan yang tidak selalu tampak di wajah. Dunia bergerak terlalu cepat, percakapan dipenuhi kemarahan, dan kehidupan terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir. Media sosial menjadi ruang ledakan emosi, politik dipenuhi saling serang, sementara hubungan antarmanusia semakin mudah retak hanya karena perbedaan pandangan yang sepele.

Di tengah suasana seperti itu, Islam menghadirkan Dzulqaidah sebagai jeda ruhani: bulan untuk menahan diri, meredakan ego, dan menenangkan hati sebelum memasuki musim ibadah yang agung. Dzulqaidah bukan sekadar nama bulan dalam kalender Hijriah. Ia termasuk bagian dari asyhurul hurum, bulan-bulan yang dimuliakan Allah SWT. Dalam Al-Qur’an ditegaskan, “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan… di antaranya empat bulan haram” (QS At-Taubah: 36). Para ulama menjelaskan bahwa bulan haram adalah momentum untuk mengurangi pertikaian, menjauhi kezaliman, dan memperbanyak pengendalian diri.

Spirit itulah yang terasa sangat relevan hari ini. Sebab problem terbesar masyarakat modern tampaknya bukan lagi sekadar kemiskinan material, tetapi kemiskinan ketenangan batin. Orang mudah tersinggung, mudah marah, mudah menghakimi, dan sulit menahan diri. Kita hidup di zaman ketika ledakan emosi sering dianggap kewajaran. Sedikit berbeda pandangan langsung berubah menjadi permusuhan. Kritik dibalas caci maki. 

Perdebatan tidak lagi mencari kebenaran, tetapi kemenangan. Bahkan dalam ruang digital, banyak orang merasa lebih bebas melukai sesama karena tidak berhadapan langsung secara fisik. Akibatnya, media sosial yang semestinya menjadi ruang berbagi ilmu dan silaturahmi justru berubah menjadi arena kemarahan kolektif. Ironisnya, semakin maju teknologi komunikasi, semakin sulit manusia menjaga komunikasi yang menenangkan. 

Informasi menyebar begitu cepat, tetapi kebijaksanaan berjalan sangat lambat. Semua orang ingin bicara, sedikit yang ingin mendengar. Semua ingin bereaksi, sedikit yang mau memahami. Kita seperti hidup dalam peradaban yang kehilangan kesabaran. Padahal dalam Islam, kemampuan menahan diri adalah tanda kekuatan jiwa. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi orang yang mampu menahan amarahnya. Hadis ini terasa semakin penting di era sekarang. 

Sebab banyak kerusakan sosial lahir bukan dari kebodohan, melainkan dari ketidakmampuan mengendalikan emosi. Rumah tangga hancur karena ego yang tidak ditahan. Persahabatan retak karena ucapan yang tidak dijaga. Persaudaraan rusak karena kebencian yang terus dipelihara. Bahkan konflik sosial dan politik sering kali dipicu oleh ledakan kemarahan yang sebenarnya dapat dicegah apabila manusia memiliki ruang tahammul kemampuan menahan diri dan bersabar. 


Pertama, Tahammul: Seni Menahan Diri di Tengah Ledakan Emosi 

Di era digital, manusia terbiasa bereaksi sebelum berpikir. Sedikit berbeda pendapat langsung berubah menjadi pertengkaran terbuka. Padahal Islam sejak awal membangun peradaban di atas kemampuan mengendalikan emosi, bukan melampiaskannya. Dzulqaidah mengajarkan bahwa kedewasaan tidak diukur dari seberapa keras seseorang berbicara, melainkan dari seberapa mampu ia menahan dirinya ketika marah.

Dalam banyak keadaan, diam yang bijak jauh lebih mulia daripada kemenangan perdebatan yang melukai banyak hati. Hari ini manusia terlalu mudah terpancing oleh komentar, unggahan, atau provokasi yang sebenarnya tidak perlu ditanggapi. Budaya digital telah membentuk manusia yang serba spontan. Orang menulis sebelum berpikir, membagikan informasi sebelum memverifikasi, dan mengomentari sesuatu sebelum memahami persoalannya secara utuh.

Akibatnya, ruang publik dipenuhi kegaduhan yang melelahkan. Kebisingan menjadi hiburan baru, sementara ketenangan dianggap kelemahan. Padahal para ulama sejak dahulu telah mengingatkan pentingnya menjaga lisan. Imam Syafi’i pernah berpesan bahwa ketika seseorang ingin berbicara, hendaknya ia berpikir terlebih dahulu apakah ucapannya membawa maslahat atau justru mudarat. Jika tidak membawa kebaikan, maka diam lebih utama. Nilai seperti ini tampaknya semakin mahal di era media sosial yang menjadikan kecepatan lebih penting daripada kebijaksanaan. 

Dalam banyak hal, manusia hari ini sesungguhnya tidak kekurangan pengetahuan, tetapi kehilangan kemampuan mengendalikan ego. Semua ingin terlihat benar, sedikit yang mau belajar rendah hati. Semua ingin menang, sedikit yang ingin memahami. Akibatnya, hubungan sosial menjadi rapuh karena setiap orang sibuk mempertahankan gengsi dan kemarahannya sendiri. 

Kedua, Muhasabah: Keberanian Mengoreksi Diri Sendiri

Di tengah budaya saling menyalahkan, Islam justru mengajarkan pentingnya bercermin kepada diri sendiri. Hari ini manusia lebih sibuk mengoreksi orang lain daripada mengevaluasi dirinya sendiri. Media sosial menjadikan banyak orang merasa paling benar, tetapi sulit mengakui kesalahan pribadi. Padahal inti kedewasaan spiritual justru terletak pada keberanian melakukan muhasabah. Umar bin Khattab pernah berkata, “Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab.” Kalimat ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang sehat. Sebab banyak konflik sosial lahir dari manusia yang merasa dirinya selalu benar. Kita terlalu mudah menunjuk kesalahan orang lain, tetapi sulit menerima kritik terhadap diri sendiri. 

Dzulqaidah mengajarkan jeda: berhenti sejenak dari kebisingan dunia untuk bertanya apakah hati kita masih dipenuhi kejernihan atau justru dipenuhi kemarahan yang terus dipelihara. Di era modern, manusia sering kehilangan ruang hening untuk berbicara dengan dirinya sendiri. Kehidupan terlalu ramai, terlalu cepat, dan terlalu penuh distraksi. Orang sibuk mengejar pengakuan sosial, tetapi lupa mengenali keadaan hatinya sendiri. Akibatnya, banyak manusia tampak sukses secara materi, tetapi hidup dalam kegelisahan yang tidak selesai. Mereka memiliki banyak koneksi, tetapi kehilangan kedekatan dengan dirinya sendiri dan dengan Allah SWT. Padahal ketenangan hidup tidak hanya ditentukan oleh pencapaian duniawi, tetapi juga oleh kejernihan batin. 

Muhasabah menjadi penting karena ia mengajarkan kerendahan hati. Bahwa setiap manusia memiliki kekurangan, memiliki kelemahan, dan membutuhkan perbaikan terus-menerus. Tanpa muhasabah, manusia mudah terjebak dalam kesombongan moral yang membuatnya gemar menghakimi orang lain. 

Ketiga, Adab al-Ikhtilaf: Etika dalam Menyikapi Perbedaan

Salah satu krisis terbesar masyarakat modern adalah hilangnya adab dalam menghadapi perbedaan. Perbedaan pandangan kini sering berubah menjadi permusuhan. Politik memecah persaudaraan, komentar publik kehilangan kesantunan, bahkan ruang keagamaan terkadang dipenuhi celaan. Islam tidak pernah melarang perbedaan, tetapi Islam mengatur cara menyikapinya. Sebab peradaban tidak runtuh karena banyak perbedaan, melainkan karena hilangnya adab dalam menghadapi perbedaan itu sendiri. Para ulama terdahulu berbeda pandangan dalam banyak persoalan, tetapi tetap menjaga kehormatan satu sama lain. 

Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal memiliki perbedaan dalam sejumlah persoalan fikih, tetapi hubungan keduanya tetap dilandasi penghormatan dan kasih sayang. Tradisi intelektual yang teduh seperti inilah yang mulai hilang dalam kehidupan publik hari ini. Banyak orang lebih suka mempermalukan lawannya daripada mencari titik temu. 

Bahkan dalam diskusi keagamaan, terkadang muncul kecenderungan merasa paling suci sambil merendahkan kelompok lain. Padahal Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari kerasnya ucapan, melainkan dari ketakwaannya. Dzulqaidah mengingatkan bahwa menjaga persaudaraan jauh lebih penting daripada memenangkan ego pribadi. Sebab tidak semua perbedaan harus diakhiri dengan permusuhan. Ada saat ketika menghormati perbedaan justru menjadi tanda kedewasaan iman dan keluasan ilmu. 

Jika masyarakat terus memelihara budaya saling menghina, maka ruang publik hanya akan dipenuhi kebencian kolektif yang melelahkan. Sebaliknya, apabila adab al-ikhtilaf dihidupkan kembali, maka perbedaan dapat berubah menjadi kekayaan intelektual dan sosial. 

Keempat, Tazkiyatun Nafs: Membersihkan Hati sebelum Menghakimi Dunia 

Bulan haram bukan hanya penanggalan ritual, tetapi ruang pendidikan ruhani. Ia mengajarkan manusia untuk menenangkan ego, mengurangi permusuhan, dan membersihkan hati sebelum memasuki Zulhijah. Sebagian orang mulai mempersiapkan perjalanan haji, tetapi sesungguhnya semua Muslim juga perlu mempersiapkan perjalanan hati. Sebab ibadah tidak hanya membutuhkan kesiapan fisik, melainkan juga kejernihan jiwa. Tidak ada gunanya banyak ritual jika hati masih dipenuhi kebencian, kesombongan, dan kemarahan yang tidak terkendali. Dalam banyak hal, manusia modern terlalu sibuk mempercantik citra luar, tetapi lupa merawat keadaan batinnya. Kita hidup di zaman ketika pencitraan lebih dipentingkan daripada ketulusan. Orang ingin terlihat saleh, tetapi belum tentu sungguh-sungguh membersihkan dirinya dari iri hati, dendam, dan kesombongan. Padahal inti ajaran Islam bukan sekadar tampilan lahiriah, tetapi transformasi ruhani.

Tazkiyatun nafs mengajarkan bahwa musuh terbesar manusia sering kali bukan orang lain, melainkan egonya sendiri. Ego yang selalu ingin dipuji, selalu ingin menang, dan sulit menerima kenyataan bahwa dirinya juga memiliki kekurangan. Dzulqaidah mengajak manusia untuk menurunkan suara egonya agar hati kembali jernih mendengar suara nurani. Sebab hati yang dipenuhi amarah tidak akan mampu melihat kebenaran secara utuh. Hati yang dipenuhi kebencian juga sulit melahirkan kebijaksanaan. Karena itu, membersihkan jiwa menjadi kebutuhan penting di tengah dunia yang semakin gaduh. 

Kelima, Sakinah: Ketenangan sebagai Fondasi Peradaban

Pada akhirnya, dunia modern sesungguhnya sedang mengalami krisis ketenangan. Manusia memiliki teknologi canggih, tetapi kehilangan kedamaian batin. Informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan terasa langka. Orang semakin mudah terhubung secara digital, tetapi semakin sulit merasa dekat secara emosional. Padahal dalam bahasa Al-Qur’an, ketenangan itu disebut sakinah ketenteraman yang Allah turunkan ke dalam hati manusia yang dekat kepada-Nya. 

Bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh teknologi dan kemajuan ekonomi, melainkan juga oleh masyarakat yang mampu menjaga lisan, menghormati sesama, dan menahan diri dari kebencian. Sebab masyarakat yang mudah marah akan sulit membangun persatuan, sedangkan masyarakat yang teduh lebih mudah melahirkan kebijaksanaan. Hari ini dunia dipenuhi orang cerdas, tetapi tidak semuanya menghadirkan ketenteraman. Kita terlalu sering bangga menjadi paling keras, tetapi lupa bagaimana menjadi paling teduh. Padahal dalam banyak keadaan, keteduhan jauh lebih menyelamatkan daripada kemarahan.

Di penghujung Dzulqaidah ini, Islam kembali mengingatkan bahwa kekuatan terbesar bukanlah kemampuan mengalahkan orang lain, melainkan kemampuan mengendalikan diri sendiri. Sebab manusia yang mampu menahan amarah, menjaga lisan, dan menenangkan hati sesungguhnya sedang membangun kemenangan yang jauh lebih besar: kemenangan atas egonya sendiri.wallahu a’lam. 


Sumber : Iswandi. M. Yazid /  Editor : Ew

Ikuti Pelalawanpos.co


Pelalawanpos.co

BERITA LAINNYA +INDEKS
Nasional

Kejar Target Penyelesaian, Satgas TMMD Ke-129 Kodim 0102/Pidie Pasang Plafon dan Cat Kusen RTLH Sasaran 3

Sabtu, 01 Agustus 2026 - 14:21:50 WIB

PIDIE (Pelalawanpos) - Satgas TMMD Ke-129 Kodim 0102/Pidie terus menggenjot penyelesaian sasaran .

Nasional

Bangga Menjadi Bagian Satgas TMMD, Sertu Ramadhan Curahkan Pengabdian Membangun Rumah Layak Huni untuk Warga

Sabtu, 01 Agustus 2026 - 11:30:23 WIB

PIDIE (Busernews24) – Rasa bangga menjadi bagian dari Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD.

Nasional

Satgas TMMD Ke-129 Kodim 0102/Pidie Perkuat Struktur Jembatan, Pemasangan Bekisting Box Culvert Dikebut

Sabtu, 01 Agustus 2026 - 11:20:46 WIB

PIDIE (Pelalawanpos) – Komitmen Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-129 Kodim 0102/Pi.

Nasional

Satgas TMMD Ke-129 Kodim 0313/KPR Geber Pembangunan Rumah Diasan di Parit Baru

Sabtu, 01 Agustus 2026 - 11:14:19 WIB

​PELALAWAN (Pelalawanpos) – Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Tahun 2026 Kodim 0.

Nasional

Sasaran Ketiga TMMD Ke-129, Babinsa Koramil 03/Bunut Dampingi Pembuatan Pondasi Tower Air Bersih di Desa Delik

Sabtu, 01 Agustus 2026 - 11:05:55 WIB

​PELALAWAN (Pelalawanpos) – Komitmen Satuan Tugas (Satgas) Tentara Manunggal Membangun Desa (.

Nasional

Disiplin ASN di Pelalawan Diperketat, AJAR Riau: Fondasi Birokrasi Bersih Dimulai dari Disiplin

Sabtu, 01 Agustus 2026 - 07:02:48 WIB

Pangkalan Kerinci (PelalawanPos.co)– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) .

TULIS KOMENTAR +INDEKS


Terkini +INDEKS
Kejar Target Penyelesaian, Satgas TMMD Ke-129 Kodim 0102/Pidie Pasang Plafon dan Cat Kusen RTLH Sasaran 3
01 Agustus 2026
Bangga Menjadi Bagian Satgas TMMD, Sertu Ramadhan Curahkan Pengabdian Membangun Rumah Layak Huni untuk Warga
01 Agustus 2026
Satgas TMMD Ke-129 Kodim 0102/Pidie Perkuat Struktur Jembatan, Pemasangan Bekisting Box Culvert Dikebut
01 Agustus 2026
Satgas TMMD Ke-129 Kodim 0313/KPR Geber Pembangunan Rumah Diasan di Parit Baru
01 Agustus 2026
Sasaran Ketiga TMMD Ke-129, Babinsa Koramil 03/Bunut Dampingi Pembuatan Pondasi Tower Air Bersih di Desa Delik
01 Agustus 2026
Disiplin ASN di Pelalawan Diperketat, AJAR Riau: Fondasi Birokrasi Bersih Dimulai dari Disiplin
01 Agustus 2026
Ketua Umum JMSI: Soal ‘Londo Ireng’ Jangan Salah Mengerti
31 Juli 2026
Bupati Zukri Desak BPH Migas dan Pertamina, BBM untuk Kuala Kampar Harus Segera Mengalir
31 Juli 2026
Rehab RTLH Sasaran Fisik TMMD Ke-129 Kodim 0102/Pidie Berlanjut, Instalasi Listrik Mulai Dipasang
31 Juli 2026
Satgas TMMD ke-129 Kodim 0102/Pidie Gandeng Dinas Sosial Edukasi Warga Cegah Stunting
31 Juli 2026
TERPOPULER +INDEKS
  • 1 Bupati Pelalawan Perkuat Disiplin ASN dan Silaturahmi Melalui Program Shalat Berjemaah
  • 2 Ratusan Warga Kembali Kepung Ampang-Ampang PT CAS, Tuntut 92,8 Hektare Lahan Dikembalikan
  • 3 Tangis Ibu Gladisy Pecah, Tiga Anaknya Terancam Putus Sekolah Usai Bantuan PIP Terhenti
  • 4 Warga Terbangiang dan Lipai Bulan Tolak Pengelolaan Lahan 92,2 Hektare oleh KSO PT Agrinas, Minta Presiden Prabowo Kembalikan Tanah Milik Masyarakat
  • 5 Presma ITP2I Wakili Pelalawan di Munas BEM SI XIX, Siap Bawa Aspirasi Mahasiswa ke Tingkat Nasional
  • 6 Hadiri Milad ke-43 Desa Langkan, Bupati Zukri: Pemimpin Harus Mampu Membahagiakan Rakyat
  • 7 Dorong Inklusi Keuangan di Seluruh Kecamatan Pelalawan, BRI Pangkalan Kerinci Salurkan Rekening Payroll BritAma

PT. INSAN PERS PELALAWAN
Jl Pulau Payung Pangkalan Kerinci Kota- Pelalawan-Riau
Email: pelalawanpos@gmail.com

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

©2021 Pelalawanpos.co - All Rights Reserved By Delapan Media