Meledak, Peserta Riau Edutech Campus Summit 2025 Penuhi Gelanggang Remaja
Panwascam Pangakalan Kerinci Tertibkan Ratusan APK
Suami Selingkuh, Istri ASN Diskop Pekanbaru Ini Lapor ke BKPSDM
Menahan Diri di Era yang Serba Meledak Oleh : Iswadi M.Yazid
PelalawanPos- Di penghujung Dzulqaidah, manusia modern sesungguhnya sedang menghadapi kelelahan yang tidak selalu tampak di wajah. Dunia bergerak terlalu cepat, percakapan dipenuhi kemarahan, dan kehidupan terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir. Media sosial menjadi ruang ledakan emosi, politik dipenuhi saling serang, sementara hubungan antarmanusia semakin mudah retak hanya karena perbedaan pandangan yang sepele.
Di tengah suasana seperti itu, Islam menghadirkan Dzulqaidah sebagai jeda ruhani: bulan untuk menahan diri, meredakan ego, dan menenangkan hati sebelum memasuki musim ibadah yang agung. Dzulqaidah bukan sekadar nama bulan dalam kalender Hijriah. Ia termasuk bagian dari asyhurul hurum, bulan-bulan yang dimuliakan Allah SWT. Dalam Al-Qur’an ditegaskan, “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan… di antaranya empat bulan haram” (QS At-Taubah: 36). Para ulama menjelaskan bahwa bulan haram adalah momentum untuk mengurangi pertikaian, menjauhi kezaliman, dan memperbanyak pengendalian diri.
Spirit itulah yang terasa sangat relevan hari ini. Sebab problem terbesar masyarakat modern tampaknya bukan lagi sekadar kemiskinan material, tetapi kemiskinan ketenangan batin. Orang mudah tersinggung, mudah marah, mudah menghakimi, dan sulit menahan diri. Kita hidup di zaman ketika ledakan emosi sering dianggap kewajaran. Sedikit berbeda pandangan langsung berubah menjadi permusuhan. Kritik dibalas caci maki.
Perdebatan tidak lagi mencari kebenaran, tetapi kemenangan. Bahkan dalam ruang digital, banyak orang merasa lebih bebas melukai sesama karena tidak berhadapan langsung secara fisik. Akibatnya, media sosial yang semestinya menjadi ruang berbagi ilmu dan silaturahmi justru berubah menjadi arena kemarahan kolektif. Ironisnya, semakin maju teknologi komunikasi, semakin sulit manusia menjaga komunikasi yang menenangkan.
Informasi menyebar begitu cepat, tetapi kebijaksanaan berjalan sangat lambat. Semua orang ingin bicara, sedikit yang ingin mendengar. Semua ingin bereaksi, sedikit yang mau memahami. Kita seperti hidup dalam peradaban yang kehilangan kesabaran. Padahal dalam Islam, kemampuan menahan diri adalah tanda kekuatan jiwa. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi orang yang mampu menahan amarahnya. Hadis ini terasa semakin penting di era sekarang.
Sebab banyak kerusakan sosial lahir bukan dari kebodohan, melainkan dari ketidakmampuan mengendalikan emosi. Rumah tangga hancur karena ego yang tidak ditahan. Persahabatan retak karena ucapan yang tidak dijaga. Persaudaraan rusak karena kebencian yang terus dipelihara. Bahkan konflik sosial dan politik sering kali dipicu oleh ledakan kemarahan yang sebenarnya dapat dicegah apabila manusia memiliki ruang tahammul kemampuan menahan diri dan bersabar.
Pertama, Tahammul: Seni Menahan Diri di Tengah Ledakan Emosi
Di era digital, manusia terbiasa bereaksi sebelum berpikir. Sedikit berbeda pendapat langsung berubah menjadi pertengkaran terbuka. Padahal Islam sejak awal membangun peradaban di atas kemampuan mengendalikan emosi, bukan melampiaskannya. Dzulqaidah mengajarkan bahwa kedewasaan tidak diukur dari seberapa keras seseorang berbicara, melainkan dari seberapa mampu ia menahan dirinya ketika marah.
Dalam banyak keadaan, diam yang bijak jauh lebih mulia daripada kemenangan perdebatan yang melukai banyak hati. Hari ini manusia terlalu mudah terpancing oleh komentar, unggahan, atau provokasi yang sebenarnya tidak perlu ditanggapi. Budaya digital telah membentuk manusia yang serba spontan. Orang menulis sebelum berpikir, membagikan informasi sebelum memverifikasi, dan mengomentari sesuatu sebelum memahami persoalannya secara utuh.
Akibatnya, ruang publik dipenuhi kegaduhan yang melelahkan. Kebisingan menjadi hiburan baru, sementara ketenangan dianggap kelemahan. Padahal para ulama sejak dahulu telah mengingatkan pentingnya menjaga lisan. Imam Syafi’i pernah berpesan bahwa ketika seseorang ingin berbicara, hendaknya ia berpikir terlebih dahulu apakah ucapannya membawa maslahat atau justru mudarat. Jika tidak membawa kebaikan, maka diam lebih utama. Nilai seperti ini tampaknya semakin mahal di era media sosial yang menjadikan kecepatan lebih penting daripada kebijaksanaan.
Dalam banyak hal, manusia hari ini sesungguhnya tidak kekurangan pengetahuan, tetapi kehilangan kemampuan mengendalikan ego. Semua ingin terlihat benar, sedikit yang mau belajar rendah hati. Semua ingin menang, sedikit yang ingin memahami. Akibatnya, hubungan sosial menjadi rapuh karena setiap orang sibuk mempertahankan gengsi dan kemarahannya sendiri.
Kedua, Muhasabah: Keberanian Mengoreksi Diri Sendiri
Di tengah budaya saling menyalahkan, Islam justru mengajarkan pentingnya bercermin kepada diri sendiri. Hari ini manusia lebih sibuk mengoreksi orang lain daripada mengevaluasi dirinya sendiri. Media sosial menjadikan banyak orang merasa paling benar, tetapi sulit mengakui kesalahan pribadi. Padahal inti kedewasaan spiritual justru terletak pada keberanian melakukan muhasabah. Umar bin Khattab pernah berkata, “Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab.” Kalimat ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang sehat. Sebab banyak konflik sosial lahir dari manusia yang merasa dirinya selalu benar. Kita terlalu mudah menunjuk kesalahan orang lain, tetapi sulit menerima kritik terhadap diri sendiri.
Dzulqaidah mengajarkan jeda: berhenti sejenak dari kebisingan dunia untuk bertanya apakah hati kita masih dipenuhi kejernihan atau justru dipenuhi kemarahan yang terus dipelihara. Di era modern, manusia sering kehilangan ruang hening untuk berbicara dengan dirinya sendiri. Kehidupan terlalu ramai, terlalu cepat, dan terlalu penuh distraksi. Orang sibuk mengejar pengakuan sosial, tetapi lupa mengenali keadaan hatinya sendiri. Akibatnya, banyak manusia tampak sukses secara materi, tetapi hidup dalam kegelisahan yang tidak selesai. Mereka memiliki banyak koneksi, tetapi kehilangan kedekatan dengan dirinya sendiri dan dengan Allah SWT. Padahal ketenangan hidup tidak hanya ditentukan oleh pencapaian duniawi, tetapi juga oleh kejernihan batin.
Muhasabah menjadi penting karena ia mengajarkan kerendahan hati. Bahwa setiap manusia memiliki kekurangan, memiliki kelemahan, dan membutuhkan perbaikan terus-menerus. Tanpa muhasabah, manusia mudah terjebak dalam kesombongan moral yang membuatnya gemar menghakimi orang lain.
Ketiga, Adab al-Ikhtilaf: Etika dalam Menyikapi Perbedaan
Salah satu krisis terbesar masyarakat modern adalah hilangnya adab dalam menghadapi perbedaan. Perbedaan pandangan kini sering berubah menjadi permusuhan. Politik memecah persaudaraan, komentar publik kehilangan kesantunan, bahkan ruang keagamaan terkadang dipenuhi celaan. Islam tidak pernah melarang perbedaan, tetapi Islam mengatur cara menyikapinya. Sebab peradaban tidak runtuh karena banyak perbedaan, melainkan karena hilangnya adab dalam menghadapi perbedaan itu sendiri. Para ulama terdahulu berbeda pandangan dalam banyak persoalan, tetapi tetap menjaga kehormatan satu sama lain.
Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal memiliki perbedaan dalam sejumlah persoalan fikih, tetapi hubungan keduanya tetap dilandasi penghormatan dan kasih sayang. Tradisi intelektual yang teduh seperti inilah yang mulai hilang dalam kehidupan publik hari ini. Banyak orang lebih suka mempermalukan lawannya daripada mencari titik temu.
Bahkan dalam diskusi keagamaan, terkadang muncul kecenderungan merasa paling suci sambil merendahkan kelompok lain. Padahal Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari kerasnya ucapan, melainkan dari ketakwaannya. Dzulqaidah mengingatkan bahwa menjaga persaudaraan jauh lebih penting daripada memenangkan ego pribadi. Sebab tidak semua perbedaan harus diakhiri dengan permusuhan. Ada saat ketika menghormati perbedaan justru menjadi tanda kedewasaan iman dan keluasan ilmu.
Jika masyarakat terus memelihara budaya saling menghina, maka ruang publik hanya akan dipenuhi kebencian kolektif yang melelahkan. Sebaliknya, apabila adab al-ikhtilaf dihidupkan kembali, maka perbedaan dapat berubah menjadi kekayaan intelektual dan sosial.
Keempat, Tazkiyatun Nafs: Membersihkan Hati sebelum Menghakimi Dunia
Bulan haram bukan hanya penanggalan ritual, tetapi ruang pendidikan ruhani. Ia mengajarkan manusia untuk menenangkan ego, mengurangi permusuhan, dan membersihkan hati sebelum memasuki Zulhijah. Sebagian orang mulai mempersiapkan perjalanan haji, tetapi sesungguhnya semua Muslim juga perlu mempersiapkan perjalanan hati. Sebab ibadah tidak hanya membutuhkan kesiapan fisik, melainkan juga kejernihan jiwa. Tidak ada gunanya banyak ritual jika hati masih dipenuhi kebencian, kesombongan, dan kemarahan yang tidak terkendali. Dalam banyak hal, manusia modern terlalu sibuk mempercantik citra luar, tetapi lupa merawat keadaan batinnya. Kita hidup di zaman ketika pencitraan lebih dipentingkan daripada ketulusan. Orang ingin terlihat saleh, tetapi belum tentu sungguh-sungguh membersihkan dirinya dari iri hati, dendam, dan kesombongan. Padahal inti ajaran Islam bukan sekadar tampilan lahiriah, tetapi transformasi ruhani.
Tazkiyatun nafs mengajarkan bahwa musuh terbesar manusia sering kali bukan orang lain, melainkan egonya sendiri. Ego yang selalu ingin dipuji, selalu ingin menang, dan sulit menerima kenyataan bahwa dirinya juga memiliki kekurangan. Dzulqaidah mengajak manusia untuk menurunkan suara egonya agar hati kembali jernih mendengar suara nurani. Sebab hati yang dipenuhi amarah tidak akan mampu melihat kebenaran secara utuh. Hati yang dipenuhi kebencian juga sulit melahirkan kebijaksanaan. Karena itu, membersihkan jiwa menjadi kebutuhan penting di tengah dunia yang semakin gaduh.
Kelima, Sakinah: Ketenangan sebagai Fondasi Peradaban
Pada akhirnya, dunia modern sesungguhnya sedang mengalami krisis ketenangan. Manusia memiliki teknologi canggih, tetapi kehilangan kedamaian batin. Informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan terasa langka. Orang semakin mudah terhubung secara digital, tetapi semakin sulit merasa dekat secara emosional. Padahal dalam bahasa Al-Qur’an, ketenangan itu disebut sakinah ketenteraman yang Allah turunkan ke dalam hati manusia yang dekat kepada-Nya.
Bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh teknologi dan kemajuan ekonomi, melainkan juga oleh masyarakat yang mampu menjaga lisan, menghormati sesama, dan menahan diri dari kebencian. Sebab masyarakat yang mudah marah akan sulit membangun persatuan, sedangkan masyarakat yang teduh lebih mudah melahirkan kebijaksanaan. Hari ini dunia dipenuhi orang cerdas, tetapi tidak semuanya menghadirkan ketenteraman. Kita terlalu sering bangga menjadi paling keras, tetapi lupa bagaimana menjadi paling teduh. Padahal dalam banyak keadaan, keteduhan jauh lebih menyelamatkan daripada kemarahan.
Di penghujung Dzulqaidah ini, Islam kembali mengingatkan bahwa kekuatan terbesar bukanlah kemampuan mengalahkan orang lain, melainkan kemampuan mengendalikan diri sendiri. Sebab manusia yang mampu menahan amarah, menjaga lisan, dan menenangkan hati sesungguhnya sedang membangun kemenangan yang jauh lebih besar: kemenangan atas egonya sendiri.wallahu a’lam.
May Day 2026 di Riau Kompleks Meriah, Ribuan Pekerja dan Keluarga Rayakan Kebersamaan Tanpa Sekat
Riau Kompleks (PelalawanPos)– Suasana berbeda terasa di Lapangan Me.
Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Anak di Pati Mandek Setahun, Komnas Anak: “Ini Alarm Darurat Nasional”
Jakarta (PelalawanPos)– Mandeknya penanganan kasus dugaan kekerasan.
Bupati dan Kapolres Kompak Dukung Wahyu Trinanda Puteri, Siap Harumkan Nama Pelalawan di Grand Final Duta Pariwisata Riau 2026
PANGKALAN KERINCI (PelalawanPos)– Dukungan besar mengalir untuk Wah.
Rakor Darurat BBM, Bupati Zukri Minta Distribusi Dipercepat dan SPBU Tertib
Pelalawan (PelalawanPos)– Pemerintah Kabupaten Pelalawan bergerak c.
Upah Naik, Hidup Tak Kunjung Layak: May Day 2026 dan Realitas Buruh Kita
PelalawanPos-Momen Hari Buruh Nasional atau May Day pada 1 Mei 2026 k.
Adat yang Bergeser: Dari Simbol Kehormatan Menjadi Pertunjukan
PelalawanPos- Ada sesuatu yang diam-diam berubah dalam wajah pernikah.








