Meledak, Peserta Riau Edutech Campus Summit 2025 Penuhi Gelanggang Remaja
Panwascam Pangakalan Kerinci Tertibkan Ratusan APK
Suami Selingkuh, Istri ASN Diskop Pekanbaru Ini Lapor ke BKPSDM
Bupati Zukri dan Sultan Pelalawan X Hadir di Rangkaian Balimau Sultan Sambut Ramadan 1447 H
PELALAWAN (Pelalawanpos) - Langit pagi di Kecamatan Pelalawan masih diselimuti cahaya lembut ketika rombongan adat mulai bergerak dari halaman Istana Sayap Pelalawan. Angin dari tepian Sungai Kampar berhembus perlahan, membawa aroma air sungai yang tenang sekaligus menyimpan jejak sejarah panjang Kesultanan Pelalawan. Di tengah suasana yang sarat makna itulah, Bupati Pelalawan H. Zukri, SM., MM hadir bersama Sultan Pelalawan X Assayyidis Syarif Kamaruddin Haroen Tengku Besar Pelalawan untuk mengikuti rangkaian prosesi adat Belimau Sultan dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah, Minggu (15/2/2026).
Hari itu bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah peristiwa budaya yang menyatukan masa lalu, masa kini, dan harapan masa depan dalam satu tarikan napas panjang masyarakat Melayu Pelalawan.
Kawasan Kelurahan Pelalawan, tempat prosesi dipusatkan, merupakan jantung sejarah Kerajaan Pelalawan. Di sinilah dahulu denyut pemerintahan kesultanan berpusat, menyebarkan pengaruh budaya, agama, dan tatanan sosial yang membentuk identitas masyarakat hingga kini. Setiap sudut kawasan ini seolah berbicara tentang kejayaan masa silam—tentang nilai marwah, adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.
Prosesi Belimau Sultan menjadi momentum penting untuk kembali menapaki jejak sejarah tersebut. Ia bukan hanya perayaan menjelang Ramadan, tetapi juga ruang kolektif untuk menghidupkan ingatan bersama tentang para pendahulu yang telah membangun negeri dengan kebijaksanaan dan keteguhan iman.
Kehadiran Bupati Zukri bersama Sultan Pelalawan X serta Anggota DPD RI Abdul Hamid, unsur Forkopimda, Sekretaris Daerah Tengku Zulfan, kepala OPD, Lembaga Adat Melayu Riau, tokoh adat, dan tokoh masyarakat, menunjukkan bahwa adat dan pemerintahan berjalan beriringan. Tidak ada sekat antara struktur formal negara dan struktur kultural masyarakat. Semuanya melebur dalam satu payung besar: menjaga warisan dan memperkuat nilai religius.
Rangkaian Belimau Sultan diawali dengan ziarah ke kompleks Makam Sultan Pelalawan yang berada di lingkungan Masjid Hibbah. Pagi itu, langkah para pemimpin daerah dan tokoh adat terasa lebih pelan. Di antara nisan-nisan tua yang menyimpan kisah panjang perjuangan, doa-doa dipanjatkan dengan penuh khusyuk.

Tabur bunga menjadi simbol penghormatan, tetapi maknanya jauh lebih dalam dari sekadar tradisi. Di tempat itulah, generasi hari ini mengakui bahwa kemajuan daerah tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari fondasi yang telah diletakkan oleh para pendahulu.
Bupati Zukri dalam sambutannya menyampaikan bahwa ziarah makam Sultan bukan hanya rutinitas seremonial, melainkan sarana refleksi diri.
“Melalui ziarah ini kita mendoakan para pendahulu sekaligus mengambil nilai keteladanan dari perjuangan mereka dalam membangun negeri,” ujarnya.
Kata-kata itu mengandung pesan kuat: sebelum memasuki Ramadan, setiap individu diajak menundukkan hati, mengingat asal-usul, dan menata niat. Sebab Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, melainkan perjalanan spiritual yang menuntut kesiapan lahir dan batin.
Usai ziarah, rombongan kembali ke Istana Sayap Pelalawan untuk mengikuti makan beradat di ruang tamu istana. Hidangan tersaji dengan tata cara adat Melayu yang penuh aturan dan makna. Duduk bersila, menyantap makanan dengan tertib, mendahulukan yang dituakan—semuanya mencerminkan nilai penghormatan dan kebersamaan.
Makan beradat bukan hanya tentang santapan, tetapi tentang silaturahmi. Ia menjadi ruang pertemuan antara pemerintah, kesultanan, tokoh adat, dan masyarakat. Dalam suasana itulah, sekat-sekat formal mencair, digantikan kehangatan yang mempererat persaudaraan.
Nilai kebersamaan ini terasa semakin relevan menjelang Ramadan. Sebab bulan suci adalah momentum memperkuat ukhuwah, memperbaiki hubungan sosial, dan menebar kebaikan tanpa memandang perbedaan.
Menjelang siang, arak-arakan adat bergerak menuju tepian Sungai Kampar. Iringan musik tradisional dan langkah teratur para peserta prosesi menghadirkan suasana yang sakral sekaligus meriah. Masyarakat memadati tepian sungai, menyaksikan dengan antusias.
Anjungan yang telah disiapkan menjadi titik puncak prosesi Mandi Belimau Sultan. Air sungai yang dicampur perasan limau disiapkan sebagai simbol penyucian diri. Dalam tradisi Melayu, limau dipercaya melambangkan kesegaran dan kebersihan—baik secara fisik maupun spiritual.
Bupati Zukri menegaskan bahwa Belimau Sultan bukan sekadar tradisi budaya, melainkan simbol kesiapan spiritual menyambut Ramadan.
“Melalui prosesi ini kita diingatkan untuk membersihkan diri, mempererat silaturahmi, serta mempersiapkan diri agar dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan lebih khusyuk,” ungkapnya.
Pesan tersebut disambut anggukan para tokoh adat dan masyarakat. Sebab di balik percikan air limau itu, tersimpan harapan agar hati dibersihkan dari iri, dengki, dan segala sifat tercela.
Ratusan warga dari berbagai penjuru Kabupaten Pelalawan hadir menyaksikan rangkaian prosesi. Anak-anak, remaja, hingga orang tua berdiri berjejer di tepian sungai. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi bagian dari sejarah yang terus diperbarui setiap tahun.
Bagi masyarakat, Belimau Sultan adalah identitas. Ia menandai siapa mereka dan dari mana mereka berasal. Di tengah derasnya arus globalisasi, tradisi ini menjadi jangkar yang menahan nilai-nilai lokal agar tidak hanyut.
Kehadiran pemerintah daerah dalam prosesi adat memperkuat pesan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab tokoh adat, melainkan komitmen bersama. Sinergi antara pemerintah dan kesultanan menjadi fondasi penting menjaga kesinambungan tradisi.
Belimau Sultan juga mencerminkan filosofi Melayu yang menjadikan agama sebagai landasan adat. Ramadan adalah bulan suci umat Islam, dan penyambutannya melalui tradisi adat menunjukkan harmonisasi antara budaya dan agama.
Sultan Pelalawan X dalam kesempatan tersebut mengingatkan bahwa adat Melayu tidak pernah terlepas dari nilai-nilai Islam. Setiap prosesi memiliki makna spiritual yang mengajak manusia mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Tradisi ini menjadi pengingat bahwa modernitas tidak harus memutus akar budaya. Sebaliknya, kemajuan dapat tumbuh kokoh jika ditopang nilai tradisi yang kuat.

Belimau Sultan 1447 Hijriah hadir di tengah dinamika sosial yang terus berubah. Tantangan kehidupan modern, tekanan ekonomi, serta kompleksitas hubungan sosial membuat masyarakat membutuhkan ruang refleksi.
Tradisi ini memberikan ruang tersebut. Ia menjadi momen berhenti sejenak, menata hati, dan memperbaharui niat. Ramadan yang akan datang bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan kesempatan memperbaiki diri.
Bupati Zukri berharap tradisi Belimau Sultan terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda. Menurutnya, warisan budaya adalah kekuatan moral yang memperkokoh karakter masyarakat.
“Kita ingin generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya. Dengan memahami tradisi, mereka akan memiliki jati diri yang kuat,” tegasnya.
Prosesi Belimau Sultan berlangsung hingga sore hari dengan tertib dan penuh khidmat. Ketika matahari mulai condong ke barat, tepian Sungai Kampar perlahan kembali tenang. Namun semangat yang terbangun dari prosesi itu tetap terasa.
Belimau Sultan bukan sekadar ritual membasuh diri dengan air limau. Ia adalah pernyataan kolektif bahwa masyarakat Pelalawan siap menyambut Ramadan dengan hati bersih dan semangat kebersamaan.
Di antara gemericik air sungai dan doa-doa yang terucap, terselip harapan agar Ramadan 1447 Hijriah membawa keberkahan bagi negeri. Harapan agar masyarakat semakin rukun, pemerintahan semakin amanah, dan adat budaya semakin lestari.
Di tanah yang pernah menjadi pusat Kesultanan Pelalawan itu, sejarah kembali dihidupkan—bukan untuk dikenang semata, tetapi untuk dijadikan pijakan melangkah ke masa depan.
Dan ketika senja menutup hari, satu pesan terasa jelas: selama adat dijaga dan nilai religius terus dipelihara, Pelalawan akan tetap berdiri teguh sebagai negeri yang berakar kuat pada sejarah, berdaun rindang dalam kebersamaan, dan berbuah kebaikan dalam setiap langkah menyongsong Ramadan. (Advertorial/Pemkab Pelalawan/Erik)
Bupati Zukri Pimpin Rapat Penanganan Banjir Sungai Kampar, Fokus Penataan Sungai Kerinci
Pangkalan Kerinci (PelalawanPos)-Zukri memimpin rapat pembahasan pena.
Syukuran HUT ke-17, Perumda BPR Dana Amanah Gelar Buka Puasa Bersama dan Doa 40 Hari Pegawai
Pangkalan Kerinci (PelalawanPos.co) – Dalam rangka memperingati har.
Bupati Zukri Misran Buka Turnamen Zukri Ramadan Cup I di Pangkalan Kerinci
Pangkalan Kerinci (PelalawanPos)– Bupati Pelalawan H. Zukri, SM., M.
Bupati Zukri dan Wabup Husni Hadiri Festival Adat Togak Tonggol dan Mandi Balimau Kasai di Langgam
Langgam (PelalawanPos)– Bupati Pelalawan H. Zukri bersama Wakil Bup.
Baznas Pelalawan Serahkan Bantuan Pendampingan Berobat untuk Dua Warga Kurang Mampu
Pangkalan Kerinci (PelalawanPos.co) – Baznas Kabupaten Pelalawan me.
Rahmat Pantun Wakili Riau Lolos Kurasi Festival Pantun ASEAN 2026
Rohil (PelalawanPos.co)- Tokoh muda penggiat budaya, Muhammad Sarbain.








