Meledak, Peserta Riau Edutech Campus Summit 2025 Penuhi Gelanggang Remaja
Panwascam Pangakalan Kerinci Tertibkan Ratusan APK
Suami Selingkuh, Istri ASN Diskop Pekanbaru Ini Lapor ke BKPSDM
Dari Desa Segati ke Panggung Dunia, Batik Cahayo Laut Jadi Simbol Kreativitas Pelalawan
PelalawanPos.co- Di tengah riuhnya Helat Pelalawan ke-26, ada satu stand yang menarik perhatian banyak pengunjung. Di balik deretan motif dan warna yang lembut berpadu harmoni, tampak sosok perempuan berhijab tersenyum ramah menyapa setiap tamu yang datang. Dialah Nor Anita Zuzilla, perancang sekaligus pemilik Batik Cahayo Laut, batik khas asal Desa Segati, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan.
Bagi sebagian orang, batik mungkin sekadar kain bermotif indah. Namun bagi Nor Anita, setiap helai batik adalah kisah kisah tentang laut, budaya, dan kehidupan masyarakat Segati yang penuh filosofi. “Saya ingin menghadirkan batik yang bukan hanya indah dipandang, tapi juga punya cerita tentang Pelalawan,” tuturnya lembut.
Nama Batik Cahayo Laut sendiri terinspirasi dari pantulan cahaya laut di sore hari, yang menurutnya menggambarkan keindahan, ketenangan, dan harapan baru. Dari tangan kreatif Nor Anita, motif-motif seperti ombak, karang, dan biota laut dipadukan dengan simbol-simbol lokal, menjadikannya berbeda dari batik pada umumnya.
Kecintaannya terhadap budaya dan ketekunan berinovasi membawa Batik Cahayo Laut menembus berbagai panggung besar. Karyanya pernah tampil di Fashion in Frame Week di Malaysia, Fashion Runway (FRW) Season 2 Riau, Asian Islamic Fashion & Art (AIFA) di Jakarta, hingga berhasil masuk tiga besar Anugerah Pesona Indonesia (API) Award 2025 kategori Cinderamata.
“Setiap kali tampil di luar daerah, saya selalu membawa nama Pelalawan. Saya ingin orang tahu, dari desa kecil seperti Segati pun bisa lahir karya besar,” ucapnya dengan bangga.
Namun, perjalanan itu tentu tidak mudah. Nor Anita mengaku sempat menghadapi keterbatasan modal dan kesulitan bahan pewarna alami. Meski begitu, semangatnya untuk menjaga warisan budaya daerah membuatnya terus bertahan. Ia bahkan melibatkan ibu-ibu rumah tangga di desanya untuk membantu proses membatik, sehingga Batik Cahayo Laut juga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar.
Kini, Batik Cahayo Laut bukan hanya simbol kreativitas, tapi juga representasi semangat perempuan Pelalawan yang berani bermimpi besar. Melalui setiap goresan malam di kain putih, Nor Anita menuliskan harapan agar batik khas daerahnya semakin dikenal dan dicintai banyak orang.
“Cita-cita saya sederhana,” katanya menutup percakapan. “Saya ingin Batik Cahayo Laut terus hidup, menjadi kebanggaan Segati, Pelalawan, dan Indonesia.”tungkasnya.***
JMSI Riau dan Agrinas Palma Nusantara Gaungkan Sawit Berkelanjutan, Akademisi hingga Mahasiswa Antusias Berdiskusi
PEKANBARU (PelalawanPos)– Komitmen mewujudkan industri kelapa sawit.
Mengabdi dengan Hati, Bupati Zukri Raih Amanah Leadership Award JMSI Riau 2026
PEKANBARU (PelalawanPos.co)– Malam puncak peringatan Hari Ulang Tah.
Kompak Cegah Karhutla, APP Gruop Dukung Basis Tata KelolaAir Gambut
PELALAWAN (Pelalawanpos) - Korporasi Hutan Tanaman Industri (HTI) dibawah APP Group melalui unit .
Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Terima Pin Emas JMSI Riau, Apresiasi Kemitraan Media dalam Menjaga Kebangsaan
PEKANBARU (PelalawanPos)– Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam).
UAS Terima JMSI Award 2026, Dinobatkan sebagai "Voice of the Ummah"
Pekanbaru (PelalawanPos)– Pendakwah kondang nasional, Ustadz Abdul .
Saat Harga Sawit Bergejolak, Bupati Zukri Berdiri di Tengah Petani Pelalawan
Pangkalan Kerinci (PelalawanPos.co)-Di bawah terik matahari siang di .








