Meledak, Peserta Riau Edutech Campus Summit 2025 Penuhi Gelanggang Remaja
Panwascam Pangakalan Kerinci Tertibkan Ratusan APK
Suami Selingkuh, Istri ASN Diskop Pekanbaru Ini Lapor ke BKPSDM
Oleh: Iswadi M. Yazid
Ramadhan: Ibadah Naik, Akhlak Turun?
PelalawanPos – Setiap Ramadhan datang, suasana religius terasa semakin kuat. Masjid kembali ramai, kajian agama meningkat, dan berbagai aktivitas ibadah tumbuh di tengah masyarakat. Namun, di balik semarak spiritual tersebut, muncul sebuah kegelisahan yang patut menjadi refleksi bersama: mengapa di bulan suci ini sebagian orang masih mudah marah, saling menyakiti dengan kata-kata, bahkan kehilangan adab, baik di ruang publik maupun dalam lingkungan keluarga?
Puasa sejatinya tidak hanya mengajarkan umat Islam menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, puasa merupakan latihan pengendalian diri secara menyeluruh—menahan emosi, menjaga lisan, serta memperbaiki sikap. Tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa, dan tanda paling nyata dari ketakwaan itu tercermin dalam akhlak yang baik.
Realitas Ramadhan kekinian menunjukkan tantangan yang semakin kompleks. Media sosial, misalnya, kerap menjadi ruang pelampiasan emosi. Komentar kasar, prasangka, hingga perdebatan yang tidak sehat mudah ditemui, bahkan di bulan puasa. Ironisnya, semua itu dilakukan oleh orang-orang yang sedang menjalankan ibadah. Puasa seolah hanya berhenti pada aspek fisik, tidak sampai pada perubahan sikap dan perilaku.
Dalam kehidupan keluarga, tantangan tersebut juga terasa nyata. Puasa seharusnya membuat seseorang lebih sabar menghadapi pasangan dan anak-anak. Namun yang terjadi justru sebaliknya: emosi meningkat, komunikasi menjadi keras, dan konflik kecil mudah membesar. Padahal keluarga adalah ruang pertama dan utama dalam pembentukan akhlak. Jika puasa tidak membawa ketenangan dalam rumah tangga, maka esensi pendidikan spiritualnya perlu dipertanyakan.
Ramadhan juga sering diiringi perilaku konsumtif. Belanja meningkat, konsumsi makanan berlebihan, dan gaya hidup menjadi lebih boros. Puasa yang seharusnya menumbuhkan empati kepada mereka yang kekurangan, justru terkadang berubah menjadi ajang memanjakan diri. Sikap ini bertentangan dengan nilai kesederhanaan yang menjadi ruh ibadah puasa.
Fenomena lain yang tak kalah mengkhawatirkan adalah kecenderungan memamerkan ibadah dan sedekah. Amal yang semestinya dilakukan secara tulus, terkadang berubah menjadi konten. Padahal salah satu pelajaran terpenting dari puasa adalah keikhlasan—berbuat baik tanpa ingin dilihat atau dipuji.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan ibadah secara lahiriah belum tentu sejalan dengan perbaikan akhlak. Puasa bisa saja sah secara hukum, tetapi kehilangan makna jika tidak melahirkan perubahan sikap. Dalam ajaran Islam, ibadah tidak berdiri sendiri; ia harus berdampak pada cara seseorang bersikap, berbicara, dan memperlakukan orang lain.
Ramadhan seharusnya menjadi momentum menata ulang diri, terutama dalam hal adab dan etika. Menahan diri dari ucapan kasar, memilih diam daripada menyakiti, serta bersikap adil dalam keluarga mungkin terasa lebih berat daripada menahan lapar. Namun justru di situlah nilai puasa diuji.
Karena itu, persoalannya bukan pada Ramadhan. Bulan suci ini selalu sama—penuh berkah dan peluang perubahan. Yang sering berbeda adalah cara kita menjalaninya. Jika Ramadhan berlalu tanpa memperbaiki akhlak, maka yang perlu dievaluasi bukan puasanya, melainkan pemahaman kita tentang makna puasa itu sendiri.
Akhirnya, Ramadhan mengajarkan satu pesan penting: ibadah yang benar akan melahirkan akhlak yang baik. Jika ibadah meningkat tetapi akhlak tidak berubah, bahkan memburuk, maka Ramadhan belum sepenuhnya hadir dalam diri kita. Sebab keberhasilan puasa tidak hanya diukur saat waktu berbuka tiba, tetapi dari bagaimana kita bersikap—terutama setelah Ramadhan berakhir.
Wallahu a’lam.
Bupati Zukri Misran Hadiri Buka Puasa Bersama Muslimat NU, Tausiyah oleh Abdul Somad
Pangkalan Kerinci (PelalawanPos)– Bupati Pelalawan H. Zukri, SM., M.
Tausyiah Ustadz Wandi Saputra: Ramadhan Tiba, Saatnya Hati Bergembira dan Amal Dilipatgandakan
Pangkalan Kerinci (PelalawanPos)– Menjelang datangnya bulan suci Ra.
Pesan Ekoteologi Bulan Sya‘ban: Ikhtiar Spiritual Merawat Bumi Oleh : Iswadi M.Yazid
PelalawanPos- Bulan Sya‘ban menempati posisi istimewa dalam kalende.
Ceramah Ustadz Wandi Saputra: Perbanyak Istighfar, Bersihkan Hati di Bulan Sya’ban
Pangkalan Kerinci (PelalawanPos)– Ustadz Wandi Saputra menyampaikan.
Buya H Rustam Effendi MA di Mata Anak Muda Pelalawan: Putra Terbaik Yang Banyak Memberi Keteladanan
PelalawanPos- Waktu boleh berlalu, jabatan boleh berganti, namun jeja.
Ustadz Wandi Saputra Sampaikan Tausyiah tentang Keutamaan Bulan Sya’ban
PelalawanPos.co-Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan istimewa d.








