• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Parlemen
  • Politik
  • Hukum
  • Daerah
    • Pekanbaru
    • Kampar
    • Pelalawan
    • Siak
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Rohul
    • Rohil
    • Inhu
    • Inhil
    • Kuansing
    • Meranti
  • Pemerintahan
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • More
    • Religi
    • Video
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Parlemen
  • Politik
  • Hukum
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Religi
  • Video
  • Meranti
  • Kuansing
  • Inhil
  • Inhu
  • Rohil
  • Rohul
  • Dumai
  • Bengkalis
  • Siak
  • Pelalawan
  • Kampar
  • Pekanbaru
  • Pilihan Editor
  • Terpopuler
  • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
PILIHAN +INDEKS
Meledak, Peserta Riau Edutech Campus Summit 2025 Penuhi Gelanggang Remaja
Dibaca : 20357 Kali
Sah, KPU Riau Tetapkan Paslon Abdul Wahid - SF. Hariyanto Sebagai Gubernur Terpilih Pilkada 2024
Dibaca : 19788 Kali
Panwascam Pangakalan Kerinci Tertibkan Ratusan APK
Dibaca : 29918 Kali
Targetkan Satu Kursi Satu Dapil, Partai Ummat Serahkan Berkas Bacaleg ke KPU Pekanbaru
Dibaca : 33415 Kali
Suami Selingkuh, Istri ASN Diskop Pekanbaru Ini Lapor ke BKPSDM
Dibaca : 35536 Kali

  • Home
  • Nasional

GAJAH: RAKSASA TERAKHIR YANG TERLALU BESAR UNTUK DUNIA YANG MENGECIL

Redaksi

Selasa, 09 Desember 2025 09:38:17 WIB
Cetak
GAJAH: RAKSASA TERAKHIR YANG TERLALU BESAR UNTUK DUNIA YANG MENGECIL
Foto: Ilustrasi Gajah di TNTN Kabupaten Pelalawan.

Penulis Oleh: Ufaira Fadhilah AndymBiologi, Universitas Andalas

PelalawanPos-Di antara sekian banyak makhluk hidup yang pernah menghuni bumi ini, gajah merupakan satu dari sedikit raksasa yang belum tumbang oleh zaman. Mereka membawa warisan jutaan tahun evolusi makhluk hidup, saat mamalia raksasa pernah meramaikan planet ini sebelum akhirnya kalah oleh perubahan iklim dan hadirnya manusia.

Namun kini, ironi lain muncul bukan lagi dunia yang terlalu besar bagi gajah, melainkan gajah yang menjadi terlalu besar untuk dunia yang kian mengecil dan terjepit oleh hutan yang menyusut, kebun yang meluas, dan batas-batas yang manusia ciptakan. 

Di Riau, terutama di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), drama itu berlangsung setiap hari, diam namun mendesak. Di sanalah, raksasa terakhir ini mencari ruang hidup yang terus dirampas dari langkah-langkah besarnya. Gajah tidak langsung lahir sebagai raksasa. Nenek moyangnya, Moeritherium, yang hidup sekitar 37 juta tahun lalu, ukurannya hanya sebesar anjing dewasa. 

Tubuh mereka membesarsecara perlahan, mengikuti perubahan lingkungan pada saat itu yang menuntut tubuh lebih besar untuk bertahan. Ukuran raksasa memberi kelebihan bagi mereka yaitu tubuh besar mampu menyimpan lebih banyak energi, menjaga suhu tubuh lebih stabil, dan membuat predator alami berpikir dua kali sebelum mendekat. 

Dalam dunia yang keras, kelebihan itu adalah tiket yang penting untuk bertahan hidup.Berbeda dengan dinosaurus yang musnah akibat hujan asteroid dan perubahan iklim yang ekstrem, gajah berada pada garis waktu yang lebih beruntung dimana mereka muncul jutaan tahun setelah bencana besar itu lewat. Namun, mengapa megafauna atau hewan besar lain seperti mammoth, mastodon, atau sloth raksasa justru hilang, sementara gajah bertahan?Jawabannya ada pada kombinasi antara adaptasi, lokasi, dan keberuntungan evolusi. 

Gajah modern hidup di wilayah tropis yang relatif stabil suhunya, lebih sedikit mengalami guncangan iklim ekstrem dibanding wilayah tempat megafauna lain berkembang. Struktur sosial gajah yang sangat kuat hidup dalam kawanan matriarkal, menjaga anak bersama-sama juga meningkatkan peluang bertahan. Singkatnya: mereka membesar pada saat yang tepat, di tempat yang tepat, dengan strategi sosial yang tepat.Namun kelebihan itu justru menjadi ancaman baru di masa sekarang.

Tubuh besar butuh ruangyang besar pula. Setiap harinya gajah memerlukan puluhan kilometer untuk berpindah, mencari makan, dan menjaga keseimbangan ekosistem. Ketika ruang itu hilang, kelebihan yang dulu menguntungkan bisa berubah menjadi beban yang mematikan.Padahal, gajah bukan sekadar pengguna hutan mereka adalah penjaganya. Banyak orang tidak menyadari bahwa gajah bekerja sebagai “insinyur ekosistem”. 

Ketika gajah mendorong pohon tumbang atau membuka jalur di semak belukar, mereka sebenarnya memberi kesempatan bagi sinar matahari menerangi lantai hutan dan memicu tumbuhnya tunas baru. Biji-bijian dari tanaman hutan tersebar jauh lewat kotoran gajah. Tanpa gajah, regenerasi alami itu melemah. 

Keanekaragaman menurun, jalur satwa mengecil, dan hutan perlahan kehilangan vitalitasnya. Jika hutan adalah paru-paru, maka gajah adalah salah satu alveoli atau cabang kecil paru-paruyang menjaganya tetap bernapas.Namun alveoli itu kini menyusut.

Di Riau, terutama TNTN, hutan yang dulu luas dan menjadi rumah bagi populasi gajah kini berubah menjadi lanskap terfragmentasi. Puluhan ribu hektare hutan berubah menjadi kebun, dan fragmen-fragmen kecil yang tersisa tidak lagi tersambung. Fragmentasi ini lebih berbahaya daripada predator apa pun.

Gajah tidak bisa hidup dalam kantong hutan kecil mereka butuh ruang yang lapang untuk mempertahankan ritme hidupnya.Dalam keadaan itulah, suara para penjaga gajah menjadi penting. Dalam sebuah wawancara, seorang mahout yang merawat Domang, anak gajah TNTN yang menjadi salah satu simbol perjuangan konservasi mengucapkan kalimat yang sederhana namun menghentak:“Mending saya nggak ada daripada mereka nggak ada.”Kalimat itu bukan drama, itu kejujuran dari seseorang yang setiap hari hidup bersama gajah dan menyaksikan bagaimana dunia raksasa ini terus menyempit.

Ia menunjukkan bahwa bagi sebagian manusia, gajah bukan sekadar satwa liar, melainkan keluarga, tanggung jawab moral, dan alasan untuk terus bertahan.Itulah sebabnya konservasi di Riau sangat menentukan masa depan gajah Sumatra. Populasi gajah di pulau ini diperkirakan hanya tersisa beberapa ratus ekor, dan sebagian besar bergantung pada ruang hutan yang tersisa di provinsi ini. 

TNTN adalah jantung habitat gajah. Menyelamatkan kawasan ini berarti menyelamatkan jalur jelajah, sumber makan, dan keberlanjutan sosial gajah yang bergantung pada ruang. Lebih dari itu, menjaga TNTN berarti melindungi hutan dataran rendah Sumatra, salah satu ekosistem paling berharga yang masih kita miliki.

Pada akhirnya, nasib gajah bukan sekadar kisah tentang satwa besar yang tersisih oleh modernisasi. Ini adalah cermin yang memantulkan pilihan manusia: apakah kita membiarkan satu-satunya raksasa darat yang tersisa hilang begitu saja, atau memilih untuk menjaganya sebagai bagian dari warisan alam kita? Gajah telah bertahan dari zaman es, perubahan iklim ekstrem, hingga kepunahan massal. 

Namun musuh paling mematikan mereka justru lahir saat manusia menguasai ruang mereka.Jika suatu hari anak cucu kita bertanya, “Mengapa tak ada lagi raksasa di negeri ini?”, jawaban kita tidak boleh menjadi, “Karena kita membiarkannya pergi.” Selama gajah masih melangkah di hutan Riau, masih ada kesempatan memperbaiki dunia yang mengecil ini. Karena ketika kita menyelamatkan gajah, sesungguhnya kita juga sedang menyelamatkan diri kita sendiri.***


 Editor : Rh

Ikuti Pelalawanpos.co


Pelalawanpos.co

BERITA LAINNYA +INDEKS
Nasional

Upah Naik, Hidup Tak Kunjung Layak: May Day 2026 dan Realitas Buruh Kita

Sabtu, 02 Mei 2026 - 12:45:42 WIB

PelalawanPos-Momen Hari Buruh Nasional atau May Day pada 1 Mei 2026 k.

Nasional

Adat yang Bergeser: Dari Simbol Kehormatan Menjadi Pertunjukan

Selasa, 28 April 2026 - 10:08:02 WIB

PelalawanPos- Ada sesuatu yang diam-diam berubah dalam wajah pernikah.

Nasional

Dari Batu Bersurat ke Panggung Riau, Wahyu Trinanda Puteri Bawa Nama Pelalawan ke Grand Final Duta Pariwisata 2026

Senin, 27 April 2026 - 08:10:29 WIB

Pekanbaru (PelalawanPos)– Langkah itu dimulai dari sebuah desa keci.

Nasional

IBCA MMA Riau Mantapkan Langkah: Raker 2026 Fokus Event Nasional dan Internasional

Senin, 27 April 2026 - 08:04:04 WIB

Dumai (PelalawanPos)– Ikatan Bela Diri Campuran Amatir (IBCA MMA) P.

Nasional

Musda Ulang HMI Badko Sumbagtera Dinyatakan Sah, Teguhkan Konsolidasi dan Arah Baru Organisasi

Senin, 27 April 2026 - 07:58:46 WIB

SUMATERA (PelalawanPos) – Musyawarah Daerah (Musda) ulang Himpunan .

Nasional

Dari Wisata ke Kesejahteraan, Z-Park Bagi Rp1,7 Miliar ke 420 Mustahik

Jumat, 17 April 2026 - 09:45:57 WIB

Pangkalan Kerinci (PelalawanPos.co)– Di sudut Pangkalan Kerinci, se.

TULIS KOMENTAR +INDEKS


Terkini +INDEKS
Tangis Haru Iringi Keberangkatan 223 Jemaah Haji Pelalawan, Bupati Zukri: Tinggalkan Dunia, Raih Ridho Ilahi
03 Mei 2026
Kepergok Panen Sawit Pagi Hari, Dua Pemuda di Langgam Diciduk Polisi
03 Mei 2026
Upah Naik, Hidup Tak Kunjung Layak: May Day 2026 dan Realitas Buruh Kita
02 Mei 2026
Ratusan Buruh di Pelalawan Peringati May Day 2026, Long March hingga Mimbar Bebas Berlangsung Tertib
01 Mei 2026
Cetak Pemimpin Muda, Pramuka Ukui Gelar Dianpinru di Bumi Perkemahan Lubuk Kembang Sari
01 Mei 2026
BBM Langka, Bupati Zukri Gerak Cepat: Minta Kuota Diselesaikan Sehari, Koperasi Desa Jadi Penyalur
30 April 2026
Kasus Ayah Cabuli Anak Gegerkan Langgam, Publik Murka dan Desak Hukuman Maksimal
30 April 2026
Dua Emas Sekaligus! Tim Voli SDN 010 Pangkalan Kerinci Tampil Perkasa di O2SN 2026
30 April 2026
Borong 5 Medali, SDN 006 Pangkalan Kerinci Ukir Prestasi Gemilang di O2SN 2026
30 April 2026
Bupati Zukri Buka Sosialisasi Pendaftaran Tanah Ulayat, Tekankan Kepastian Hukum untuk Kesejahteraan Masyarakat Adat
29 April 2026
TERPOPULER +INDEKS
  • 1 BBM Langka, Bupati Zukri Gerak Cepat: Minta Kuota Diselesaikan Sehari, Koperasi Desa Jadi Penyalur
  • 2 Kasus Ayah Cabuli Anak Gegerkan Langgam, Publik Murka dan Desak Hukuman Maksimal
  • 3 Dua Emas Sekaligus! Tim Voli SDN 010 Pangkalan Kerinci Tampil Perkasa di O2SN 2026
  • 4 Borong 5 Medali, SDN 006 Pangkalan Kerinci Ukir Prestasi Gemilang di O2SN 2026
  • 5 Waspada Modus Pinjaman Fiktif, BPR Dana Amanah Tegaskan Layanan Resmi Tanpa Pungutan di Luar Ketentuan
  • 6 Adat yang Bergeser: Dari Simbol Kehormatan Menjadi Pertunjukan
  • 7 Realisasikan CSR, PT Arara Abadi Bangun 4 KM Jalan Aspal Tipe A

PT. INSAN PERS PELALAWAN
Jl Pulau Payung Pangkalan Kerinci Kota- Pelalawan-Riau
Email: pelalawanpos@gmail.com

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

©2021 Pelalawanpos.co - All Rights Reserved By Delapan Media