Kanal

Transformasi Listrik Prabayar Dorong Kemandirian Energi Masyarakat Riau

Pekanbaru (PelalawanPos.co)– Transformasi penggunaan listrik prabayar dinilai menjadi langkah strategis dalam mewujudkan kemandirian energi masyarakat di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau. Namun, hingga kini masih terdapat mispersepsi yang cukup kuat di tengah masyarakat terkait sistem tersebut.

Hal ini disoroti oleh Yosep Aprinaldi, mahasiswa Magister Manajemen Universitas Lancang Kuning (Unilak), di bawah bimbingan Dr. Richa Afriana Munthe, SE., MM. Menurut Yosep, sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa listrik prabayar lebih boros dan merepotkan karena pelanggan harus mengisi token secara berkala.

“Anggapan tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta di lapangan. Justru listrik prabayar menawarkan transparansi konsumsi yang lebih baik,” ujar Yosep yang akrab disapa Aldi.

Ia menjelaskan, sistem listrik prabayar memberikan sejumlah keunggulan, seperti menghilangkan risiko salah pencatatan meter, membebaskan pelanggan dari biaya beban minimum, serta membantu keluarga mengatur pengeluaran listrik melalui fitur alarm batas pemakaian. Selain itu, fleksibilitas nominal token dinilai lebih ramah bagi masyarakat dengan penghasilan harian.

Dalam kajiannya, Aldi mengaitkan fenomena ini dengan Theory of Planned Behavior (TPB). Menurutnya, penerimaan masyarakat terhadap listrik prabayar dapat dipercepat melalui pembentukan sikap positif, penguatan norma sosial dengan melibatkan tokoh masyarakat, serta peningkatan kendali perilaku melalui kemudahan akses pembelian token dan edukasi teknis yang berkelanjutan.

“Jika ketiga aspek ini terintegrasi dengan baik, maka penerimaan publik terhadap listrik prabayar akan semakin kuat,” jelasnya.

Sementara itu, dari sisi pelanggan sekaligus peneliti Manajemen, Dr. Chandra Bagus menilai tantangan utama penerapan listrik prabayar justru terletak pada belum maksimalnya edukasi publik yang dilakukan oleh PLN. Kondisi tersebut membuka ruang terjadinya mispersepsi, ditambah dengan akses token yang di beberapa wilayah masih belum merata.

Meski demikian, Dr. Chandra memberikan apresiasi terhadap kajian yang dilakukan Yosep Aprinaldi. Ia menilai kajian tersebut mampu mengangkat isu listrik prabayar secara jernih, mengaitkannya dengan kerangka teori perilaku yang relevan, serta menawarkan gagasan konstruktif bagi perbaikan layanan energi di tengah masyarakat.

“Ini menjadi kontribusi akademik yang penting dalam mendukung transformasi energi yang lebih adil dan berkelanjutan,” pungkasnya.***

Ikuti Terus Pelalawanpos

BERITA TERKAIT

BERITA TERPOPULER