Lapas Kelas IIA Tembilahan Optimalkan Pembinaan Kerohanian Warga Binaan Selama Ramadan

Sabtu, 07 Maret 2026

Tembilahan (PelalawanPos)– Selama Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah tahun 2026, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tembilahan terus mengoptimalkan program pembinaan kepribadian bagi seluruh warga binaan melalui berbagai kegiatan keagamaan.

Program pembinaan tersebut diwujudkan dalam rangkaian ibadah seperti salat tarawih berjamaah dan tadarus Al-Qur’an yang dilaksanakan para warga binaan dengan penuh khusyuk selama bulan Ramadan.

Pelaksanaan kegiatan ibadah dilakukan dengan sistem per blok hunian. Hal ini bertujuan untuk memastikan setiap warga binaan mendapatkan hak pembinaan kerohanian secara merata serta menciptakan suasana yang kondusif selama menjalankan ibadah di bulan suci.

Kepala Lapas Kelas IIA Tembilahan, Prayitno, A.Md.IP., S.Sos., melalui Kepala Seksi Pembinaan Narapidana dan Anak Didik (Kasibinadik), Eko Agus Santoso, Amd.P., S.H., M.M., pada Jumat (6/3/2026) malam menegaskan bahwa Ramadan menjadi momentum penting bagi warga binaan untuk melakukan perubahan diri melalui pendekatan spiritual.

“Selama bulan suci Ramadan, Lapas Kelas IIA Tembilahan melaksanakan berbagai kegiatan pembinaan keagamaan bagi para warga binaan. Bagi warga binaan yang beragama Islam, kami melaksanakan kegiatan ibadah seperti salat tarawih berjamaah dan tadarus Al-Qur’an yang dilakukan secara rutin,” ujarnya.

Ia menambahkan, pembinaan tersebut bertujuan meningkatkan keimanan sekaligus memberikan penguatan rohani bagi warga binaan selama menjalani masa pembinaan di dalam lapas.

Selain memfasilitasi kegiatan bagi warga binaan Muslim, pihak Lapas juga menjamin hak beribadah bagi warga binaan yang beragama Nasrani. Kegiatan kebaktian atau ibadah gereja dilaksanakan melalui kerja sama dengan Persatuan Gereja Indonesia (PGI) wilayah Indragiri Hilir serta Yayasan Pendidikan Warga Binaan Pemasyarakatan Cahaya Kasih.

Melalui sinergi pembinaan spiritual yang terjadwal dengan baik, Lapas Kelas IIA Tembilahan berharap seluruh warga binaan dapat menjadi pribadi yang lebih baik, religius, dan siap kembali ke tengah masyarakat setelah menyelesaikan masa pembinaannya dengan bekal mental dan spiritual yang kuat.***