Langgam (PelalawanPos.co)– Siapa sangka botol plastik bekas yang biasanya berakhir di tempat sampah ternyata bisa disulap menjadi media bercocok tanam yang menghasilkan sayuran segar.
Inovasi sederhana inilah yang diperkenalkan mahasiswa KUKERTA Berdampak Universitas Riau (UNRI) 2026 kepada masyarakat Desa Tambak, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, melalui sosialisasi budidaya kangkung dengan sistem hidroponik, Kamis (16/7/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program kerja KUKERTA Berdampak UNRI 2026 untuk mendorong pemberdayaan masyarakat, ketahanan pangan keluarga sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
Gagasan tersebut berangkat dari persoalan sederhana yang banyak dihadapi masyarakat, yakni keterbatasan lahan untuk bercocok tanam.
Melalui hidroponik sederhana, masyarakat tidak harus memiliki halaman luas untuk menghasilkan sayuran sendiri. Bahkan, botol plastik bekas yang ada di rumah pun dapat dimanfaatkan menjadi kebun mini.
Salah satu mahasiswa KUKERTA, Nabilla Budia Resti, yang menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut, menjelaskan bahwa kangkung dipilih karena relatif mudah dibudidayakan, masa panennya cukup singkat dan menjadi salah satu sayuran yang banyak dikonsumsi masyarakat.
Mahasiswa tidak hanya memberikan penjelasan teori, tetapi juga mengajak warga melakukan praktik secara langsung.
Peserta diperkenalkan dengan tahapan membuat hidroponik sederhana, mulai dari memanfaatkan botol plastik bekas yang telah dibersihkan, memasang kain flanel sebagai sumbu, menyiapkan rockwool untuk media semai hingga mencampurkan nutrisi A dan B yang dibutuhkan tanaman.
Agar tidak berhenti sebatas pelatihan, peserta juga mendapatkan paket perlengkapan yang terdiri dari bibit kangkung, botol plastik bekas, rockwool dan nutrisi tanaman.
Dengan paket tersebut, warga dapat langsung membawa pulang dan melanjutkan praktik hidroponik secara mandiri di rumah.
Antusiasme warga terlihat sepanjang kegiatan. Salah seorang peserta, Oncu Rini, mengaku mendapatkan pengetahuan baru dari pelatihan tersebut.
“Selama ini ingin menanam sayuran sendiri, tetapi terkendala lahan. Ternyata bisa menggunakan botol bekas dan caranya juga mudah. Bahannya pun ada di rumah,” ujarnya.
Menurutnya, bantuan bibit dan perlengkapan yang diberikan mahasiswa sangat membantu karena warga bisa langsung mempraktikkan ilmu yang diperoleh.
Jika budidaya tersebut berhasil, ia bahkan berencana mengembangkan metode serupa untuk menanam berbagai jenis sayuran lainnya.
Program ini tidak hanya berbicara tentang bagaimana menghasilkan kangkung. Lebih jauh, mahasiswa KUKERTA UNRI mencoba mengajarkan konsep sederhana bahwa sampah rumah tangga dapat memiliki nilai guna jika dikelola secara kreatif.
Botol plastik yang sebelumnya menjadi limbah diubah menjadi wadah produktif untuk menghasilkan bahan pangan.
Kegiatan tersebut juga sejalan dengan sejumlah tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan dan SDG 12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Dengan hidroponik sederhana, keluarga dapat memiliki alternatif untuk memenuhi kebutuhan sayuran sekaligus mulai membangun kebiasaan mengelola barang bekas secara lebih bijak. Mahasiswa KUKERTA Berdampak UNRI 2026 berharap kegiatan tersebut tidak berhenti setelah sosialisasi selesai.
Masyarakat Desa Tambak diharapkan dapat terus mengembangkan hidroponik sederhana secara mandiri, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan produktif.
Dari botol bekas, tumbuh kangkung. Dari sebuah pelatihan sederhana, tumbuh pula harapan agar Desa Tambak semakin mandiri, produktif dan peduli lingkungan.***