Kanal

Dari Zakat Konsumtif ke Zakat Produktif: Mengubah Mustahik Menjadi Mandiri

Oleh: (Panglima Besar Hulubalang Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Pelalawan, Datuk Tarmizi Maskar)

PelalawanPos.co-Selama ini, zakat lebih sering kita pahami sebagai bantuan sesaat uang tunai, beras, atau kebutuhan pokok yang langsung habis dikonsumsi. Cara ini memang sederhana, cepat, dan terasa “mengena”. Mustahik terbantu hari itu, perut terisi, kebutuhan terpenuhi. Selesai.

Namun, pertanyaan besarnya: setelah itu apa?

Apakah zakat hanya cukup menjadi “penolong sementara”, atau seharusnya bisa menjadi “jalan keluar” dari kemiskinan?

Di sinilah kita perlu jujur melihat realitas. Tidak ada satu pun orang yang ingin hidup dalam kekurangan. Fakir dan miskin bukan pilihan, melainkan keadaan. Maka, jika zakat hanya berhenti pada pola konsumtif, kita sebenarnya sedang mempertahankan status mustahik itu sendiri bukan mengubahnya.

Di tengah perubahan zaman, cara pandang ini mulai bergeser. Kehadiran Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menjadi titik penting dalam transformasi tersebut. Zakat tidak lagi hanya dikumpulkan dan dibagikan, tetapi dikelola sebagai instrumen strategis untuk meningkatkan kesejahteraan umat.

Artinya, zakat tidak hanya memberi ikan tetapi juga pancing, bahkan kolamnya sekaligus.

Di Kabupaten Pelalawan, gagasan ini mulai diwujudkan secara nyata. Melalui koperasi Jasa Berkah Orang Miskin yang mengelola unit usaha wisata Z-Park, zakat tidak lagi sekadar habis dibagi, tetapi diputar menjadi kekuatan ekonomi. Mustahik tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga dilibatkan sebagai bagian dari sistem yang menghasilkan.

Ini bukan sekadar program, tapi perubahan paradigma.

Bayangkan, seseorang yang sebelumnya berdiri dalam antrean zakat, kini duduk sebagai penerima Sisa Hasil Usaha (SHU). Dari tangan yang dulu di bawah, perlahan menjadi sejajar bahkan suatu hari bisa di atas sebagai pemberi zakat.

Bukankah itu tujuan utama zakat yang sesungguhnya?

Tentu, jalan menuju kemandirian tidak instan. Ini bukan cerita negeri dongeng di mana semua berubah dalam sekejap. Dibutuhkan strategi, pengelolaan profesional, dan kesabaran dalam proses. Memberi modal saja tidak cukup. Harus ada sistem yang menopang, pendampingan, dan keberlanjutan.

Di sinilah peran lembaga seperti BAZNAS menjadi krusial. Mereka tidak hanya menyalurkan, tetapi merancang masa depan para mustahik.

Namun, di tengah upaya ini, muncul pro dan kontra. Sebagian mempertanyakan, sebagian meragukan. Itu wajar. Tapi yang perlu kita renungkan: kita ingin melihat mereka tetap menjadi penerima zakat setiap tahun, atau kita ingin melihat mereka mandiri dan tidak lagi bergantung?

Pilihan itu bukan soal benar atau salah, tapi soal keberpihakan hati.

Jika suatu saat angka kemiskinan dari golongan fakir dan miskin menurun, itu bukan sekadar data statistik itu adalah kabar bahagia. Artinya, ada orang tua kita, tetangga kita, saudara kita yang perlahan keluar dari lingkaran kekurangan.

Zakat yang dikelola secara produktif bukan menghilangkan esensi berbagi, justru memperluas maknanya. Dari sekadar memberi, menjadi memberdayakan. Dari membantu hari ini, menjadi menyiapkan masa depan.

Z-Park, dalam konteks ini, bukan hanya tempat hiburan. Ia adalah simbol perubahan cara berpikir. Bahwa zakat bisa menjadi alat transformasi sosial, bukan sekadar rutinitas tahunan.

Akhirnya, pertanyaan sederhana untuk kita semua:

Apakah kita ingin melihat mereka terus menerima, atau kita ingin melihat mereka berdiri sendiri?

Jawabannya tidak perlu diucapkan. Cukup dijawab dalam hati.

Semoga setiap rupiah zakat yang kita tunaikan tidak hanya mengenyangkan hari ini, tetapi juga menguatkan hari esok. Semoga berkah. InsyaAllah.***

Ikuti Terus Pelalawanpos

BERITA TERKAIT

BERITA TERPOPULER